Seseorang berkata, “Aku melihat wajah al-Imam Ahmad sangat muram
setelah dipuji seseorang (dengan ucapan) ‘Jazakallahu khairan (semoga
Allah membalas Anda dengan kebaikan) atas perjuangan Islam Anda.’
Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, ‘Bahkan Allah telah memberi
kebaikan Islam kepadaku. Siapakah dan apa aku ini?’” (Siyar A’lamin
Nubala, 11/225)
Jumat, 08 Juni 2012
Siapakah Sebenarnya Abu Nuwas (Abu Nawas)?
Harun Al Rasyid dan Abu Nuwas (Abu Nawas)
Konon pada zaman Khalifah Harun Al Rasyid –salah
satu khalifah Daulah Bani Abbasiyyah- hiduplah seorang
pujangga yang bernama Abu Nuwas (Abu Nawas). Khalifah
mempunya hubungan dekat dengan Abu Nuwas ini, sedangkan Abu Nuwas adalah
seorang yang suka meminum minuman keras, bermain dengan wanita,
mendengarkan musik, berjoget, dan berdansa, serta perbuatan lain
semisalnya, sehingga khalifah pun banyak melakukan itu semua karena
kedekatannya dengan Abu Nuwas.Kemasyhuran Kisah Ini
Kisah ini sangat masyhur di negeri nusantara dan mungkin juga di berbagai belahan bumi Islam lainnya. Banyak komik yang ditulis, lalu dikonsumsi oleh semua kalangan yang menggambarkan bagaimana bejatnya perbuatan khalifah ini beserta teman karibnya Abu Nuwas. Sehingga kalau disebut di kalangan orang banyak tentang Harun Al Rasyid, maka yang terbetik dalam bayangan mereka adalah gambaran raja tanpa wibawa yang suka main musik dan wanita diiringi dengan minum khamr (minuman keras). Jarang sekali di antara kaum muslimin mengetahui siapa sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid kecuali dari cerita yang beredar ini.
Akar Cerita
Asal-usul utama cerita ini bersumber dari sebuah buku dongengg Alfu Lailatin wa Lailah (cerita seribu satu malam). Buku ini dari lembar pertama sampai terakhir hanyalah berisi dongengg. Dan yang namanya “dongengg” berarti ia tidak punya asal-usul sanad yang terpercaya. Isinya pun hanyalah khayalan belaka; misalnya, cerita tentang Ali Baba dengan perampok, ksiah Aladin dengan lampu ajaibnya, begitu pula cerita tentang Abu Nuwas dengan Harus Al Rasyid.
Buku ini asal-usulnya adalah dongeng yang berasal dari bangsa India dan Persia. Lalu dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab pada sekitar abad ketiga Hijriah. Kemudian ada yang menambahi beberapa ceritanya sehingga sampai masa Daulah Mamalik.
Buku ini sama sekali bukan buku sejarah, dan sama sekali tidak bisa menjadi landasan untuk mengetahui keadaan umat tertentu.
Oleh karena itu, para ulama sepakat untuk men-tahdzir (memperingatkan) atas buku ini dan melarang umat untuk membaca dan menjadikannya sebagai landasan sejarah. Di antara mereka adalah Al-Ustadz Anwar Al Jundi yang berkata, “Buku Alfu Lailatin wa Lailah adalah sebuah buku yang campur baur tanpa penulis. Buku ini disusun dalam rentang waktu yang bermacam-macam. Kebanyakan isinya menggambarkan tentang keadaan sosial masyarakat sebelum kedatangan Islam di negeri persia, India, dan berbagai negeri paganis lainnya.” Ibnu Nadim dalam Al-Fahrosat berkata tentang buku ini, “Itu adalah buku yang penuh dengan kedunguan dan kejelekan.”
Dan masih banyak lainnya. Silakan melihat apa yang dipaparkan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam Kutubun Hadzdzara minha Ulama, 2:57.
Syaikh Shalih Al Fauzan pernah ditanya, “Sebagian buku sejarah terutama buku Alfu Lailatin wa Lailah menyebutkan bahwa Khalifah Harun Al Rasyid adalah seorang yang hanya dikenal sebagai orang yang suka bermain-main, minum khamr dan lainnya. Apakah ini benar?”
Beliau menjawab: “Ini adalah kedustaan dan tuduhan yang dihembuskan ke dalam sejarah Islam. Buku Alfu Lailatin wa Lailah adalah sebuah buku yang tidak boleh dijadikan sandaran. Tidak selayaknya seorang muslim menyia-nyiakan waktunya untuk menelaah buku tersebut. Harun Al Rasyid dikenal sebagai orang yang Shalih dan istiqomah dalam agamanya, serta sungguh-sungguh dan bagus dalam mengatur masyarakatnya. Beliau satu tahun menunaikan haji dan tahun berikutnya berjihad. Ini adalah sebuah kedustaan yang terdapat ke dalam buku ini. Tidak layak bagi seorang muslim untuk membaca buku kecuali yang ada faidahnya, seperti buku sejarah yang terpercaya, buku tafsir, hadis, fiqih, dan aqidah yang dengannya seorang muslim akan bisa mengetahui urusan agamanya. Adapun buku yang tidak berharga, tidak selayaknya seorang muslim terutama penuntut ilmu menyia-nyiakan waktunya dengan membaca buku seperti itu.” (Nur Ala Darb, Fatawa Syaikh Shalih Fauzan Hal. 29)
Hakikat Cerita Ini
Dari keterangan di atas, tiada lagi keraguan bahwa kisah tentang Khalifah Harun Al Rasyid seperti yang digambarkan tadi adalah sebuah kedustaan. Banyak sekali para ulama yang menyatakan bahwa itu adalah sebuah kedustaan, di antara mereka ialah:
- Syaikh Shalih Fauzan, sebagaimana nukilan dari beliau di atas.
- Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, beliau berkata: “Ini merupakan kedustaan yang jelas dan kezaliman yang nyata…” (Fatawa Islamiyyah, 4:187)
- Syaikah Salim bin Id Al-Hilali berkata, “Kita harus membersihkan sejarah Islam dari hal-hal yang digoreskan oleh para pemalsu dan pendusta beserta cucu-cucu mereka bahwa sejarah Islam merupakan panggung anak kecil, musik, dan nyanyian. (Mereka gambarkan) para khalifah kaum muslimin sebagaimana yang dilakukan oleh para perusak tersebut dalam menodai sejarah Khalifah Harun Al Rasyid dan yang lain.” (Al-Jama’at Islamiyyah, Hal. 430)
Atas dasar ini, maka alangkah baiknya kalau kita sedikit mengetahui perjalanan hidup kedua orang ini, agar kita bisa mengetahui siapa sebenarnya Abu Nuwas juga siapa dan bagaimana sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid.
Siapakah Abu Nuwas (Abu Nawas)?
Dia adalah Abu Ali Hasan bin Hani’ al-Hakami, seorang penyair yang sangat masyhur pada zaman Bani Abbasiyyah.Kepiawaiannya dalam menggubah qoshidah syair membuat dia sangat terkenal di berbagai kalangan, sehingga dia dianggap sebagai pemimpin para penyair di zamannya.
Namun amat disayangkan, perjalanan hidupnya banyak diwarnai dengan kemaksiatan, dan itu banyak juga mewarnai syair-syairnya. Sehingga saking banyaknya dia berbicara tentang masalah khamr, sampai-sampai kumpulan syairnya ada yang disebut khamriyyat.
Abu Amr Asy-Syaibani berkata, “Seandainya Abu Nuwas tidak mengotori syairnya dengan kotoran-kotoran ini, niscaya syairnya akan kami jadikan hujjah dalam buku-buku kami.”
Bahkan sebagian orang ada yang menyebutnya sebagai orang yang zindiq meskipun pendapat ini tidak disetujui oleh sebagian ulama. Di antara yang tidak menyetujui sebutan zindiq ini untuk Abu Nuwas adalah Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (14:73), ketika menyimpulkan tentang kehidupan Abu Nuwas beliau berkata, “Kesimpulannya, para ulama banyak sekali menceritakan peristiwa kehidupannya, juga tentang syair-syairnya yang mungkar, penyelewengannya, kisahnya yang berhubungan dengan masalah khamr, kekejian, suka dengan anak-anak kecil yang ganteng serta kaum wanita sangat banyak dan keji, bahkan sebagian orang menuduhnya sebagai pezina. Di antara mereka juga ada yang menuduhnya sebagai seorang yang zindiq. Di antara mereka ada yang berkata: ‘Dia merusak dirinya sendiri.’ Hanya saja, yang tepat bahwa dia hanyalah melakukan berbagai tuduhan yang pertama saja, adapun tuduhan sebgian orang yang zindiq, maka itu sangat jauh dari kenyataan hidupnya, meskipun dia memang banyak melakukan kemaksiatan dan kekejian.”
Akan tetapi, walau bagaimanapun juga disebutkan dalam buku-buku sejarah bahwa dia bertaubat di akhir hayatnya; semoga memang demikian dan menunjukkan taubatnya adalah sebuah syair yang ditulisnya menjelang wafat:
Ya Allah, jika dosaku teramat sangat banyakSemoga Allah menerima taubatnya dan memaafkan kesalahannya, karena bagaimanapun juga dia mengakhiri hidupnya dengan taubat kepada Allah. Dan semoga kisah yang diceritakan oleh Ibnu Khalikan dalam Wafyatul-A’yan 2:102 benar adanya dan menjadi kenyataan. Beliau menceritakan dari Muhammad bin Nafi berkata, “Abu Nuwas adalah temanku, namun terjadi sesuatu yang menyebabkan antara aku dengan dia tidak saling berhubungan sampai aku mendengar berita kematiannya. Pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengannya, kukatakan, ‘Wahai Abu Nuwas, apa balasan Allah terhadapmu?’ Dia menjawab, ‘Allah mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kututlis saat aku sakit sebelum wafat, syair itu berada di bawah bantalku.’ Maka saya pun mendatangi keluarganya dan menanyakan bantal tidurnya dan akhirnya kutemukan secarik kertas yang bertuliskan: … (lalu beliau menyebutkan bait syair di atas).”
namun saya tahu bahwa pintu maaf-Mu lebih besar
Saya berdoa kepada-Mu dengan penuh tadharru’ sebagaimama Engkau perintahkan
Lalu jika Engkau menolak tangan permohonanku, lalu siapa yang akan merahmati-ku
Jika yang memohon kepada-Mu hanya orang yang baik-baik saja
Lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon
Saya tidak mempunyai wasilah kepada-Mu kecuali hanya sebuah pengharapan
Juga bagusnya pintu maaf-Mu kemudian saya pun seorang yang muslim
Setelah mengetahui sekelumit tentang Abu Nuwas, marilah kita beranjak utuk membahas siapakah sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid.
Beliau adalah Amirul-Mukminin Harun Al Rasyid bin Mahdi al-Qurasyi al-Hasyimi. Beliau adalah salah satu Khalifah Bani Abbasiyyah, bahkan pada masa beliaulah Bani Abbasiyyah mencapai zaman keemasannya.
Beliau dikenal sebagai raja yang dekat dengan ulama, menghormati ilmu, dan banyak beribadah serta berjihad. Disebutkan dalam berbagai buku sejarah yang terpercaya bahwa beliau selalu berhaji pada suatu tahun dan tahun berikutnya berjihad, begitulah seterusnya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Perjalanan hidup beliau sangat bagus. (Beliau) seorang raja yang paling banyak berjihad dan menunaikan ibadah haji. Setiap hari beliau bershodaqoh dengan hartanya sendiri sebanyak seribu dirham. Kalau pergi haji beliau juga menghajikan seratus ulama dan anak-anak mereka, dan apabila beliau tidak pergi haji, maka beliau menghajikan tiga ratus orang. Beliau suka sekali bershodaqoh. Beliau mencintai para ulama dan pujangga. Cincin beliau bertuliskan kalimat La ilaha ilallah, beliau mengerjakan shalat setiap harinya seratus rakaat sampai meninggal dunia. Hal ini tidak pernah beliau tinggalkan kecuali kalau sedang sekit.” (Al-Bidayah wa Al-Nihayah, 14:28)
Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ammar bin Laits al-Wasithi berkata, ‘Saya mendengar Fudhail bin Iyadh berkata, ‘Tidak ada kematian seorang pun yang lebih memukul diriku melebihi kematian Amirul-Mukminin Harun Al Rasyid. Sungguh saya ingin seandainya Allah menambah umurnya dengan sisa umurku.’ Ammar berkata, ‘Perkataan beliau ini terasa berat bagi kami, namun tatkala Harun telah meninggal dunia, muncullah fitnah, khalifah setelahnya yaitu Al-Makmun memaksa orang-orang untuk meyakini bahwa Alquran makhluk. Saat itu kami mengatakan, ‘Syaikh (Fudhail) lebih mengetahui tentang apa yang beliau katakan’.”
Beliau sangat keras terhadap orang yang menyimpang dari sunah dan berusaha menentangnya. Pada suatu ketika Abu Mu’awiyah menceritakan kepada beliau sebuah hadis dari Abu Hurairah bahwa Nabi Adam dan Musa berdebat, maka paman Khalifah Harun Al Rasyid berkata, “Wahai Abu Mu’awiyyah, kapan keduanya bertemu?” Maka Khalifah sangat marah seraya berkata, “Apakah engkau menentang hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ambilkan sebilah pedang dan tempat pemotongan kepala.” Maka segeralah yang beliau minta itu didatangkan. Orang-orang yang hadir saat itu pun memintakan maaf untuk paman beliau tersebut. Berkatalah Harun Al Rasyid, “Ini adalah perbuatan zindiq.” Akhirnya beliau memerintahkan untuk memenjarakannya. Sebagian orang juga pernah bercerita, “Saya masuk menemui Harun Al Rasyid dan saat itu ada seseorang yang barusan dipenggal kepalanya dan algojo sedang membersihkan pedangnya. Maka Haru Al Rasyid berkata, ‘Saya membunuhnya karena dia berkata bahwa Alquran itu makhluk’.”
Beliau sangat mencintai nasihat yang mengingatkan diri pada hari akhirat. Al-Ashma’i berkata, “Pada satu hari Harun Al Rasyid memanggilku. Saat itu dia menghiasi istana, membuat hidangan yang banyak dan lezat, lalu dia memanggil Abu Al-Atahiyyah, lalu Harun berkata kepadanya, “Sifatilah kenikmatan dan kesenangan hidup kami.” Maka Abu Al Athiyah menyenandungkan sebuah syair:
Hiduplah semaumuHarun Al Rasyid pun langsung menangis sejadi-jadinya, sehingga Fadhi bin Yahya berkata, “Amirul-Mukminin memanggilmu agar engkau bisa membuatnya senang, tetapi engkau malah membuatnya susah.” Maka Harun Al Rasyid berkata, “Biarkan dia, dia melihat kita sedang kebutaan dan dia tidak ingin kita semakin buta.”
Di bawah naungan istana nan megahmu
Engkau berusaha mendapatkan apa yang engkau senangi
Baik pada waktu sore maupun pagi
Namun, apabila jiwa tersengal-sengal
Karena sempitnya pernapasan dalam dada
Saat itu berulah engkau tau
Bahwa selama ini engkau sedang tertipu
Suatu saat lainnya, Harun Al Rasyid memanggil Abu Al Atahiyyah lalu berkata, “Nasihatilah saya dengan sebuah bait syair.” Maka Abu Al Athiyah berkata,
Jangan engkau merasa aman dari kematian sekejap mata punInilah sekilas tentang kehidupan Khalifah Harun Al Rasyid meskipun kita mengakui bahwa sebagai manusia biasa beliau pun banyak memiliki cacat dan kemaksiatan. Namun keutamaan dan kebaikan beliau jauh melebihi cacat yang beliau kerjakan. Sampai-sampai Syaikh Abu Syauqi Khalil menulis buku berjudul Harun Al Rasyid Amirul-Khulafa wa Ajallu Mulukid-Dunya (Harun Al Rasyid Pemimpin Para Khalifah dan Raja Dunia Teragung) yang mana buku ini banyak dipuji oleh Syaikh Masyhur Salman dalam beberapa tempat di dalam buku Kutubun Hadzdzara minha Ulama.
Meski engkau mempunyai para penjaga dan para pasukan
Ketahuilah bahwa panah kematian pasti tepat sasaran
Meski bagi yang membentengi diri darinya
Engkau ingin selamat namun tidak mau mengikuti jalannya
Bukankan sebuah bahtera tidak akan mungkin berlayar di jalan raya
Begitu mendengarnya, Harun Al Rasyid pun langsung jatuh pingsan.
(Lihat tentang kehidupan Harun Al Rasyid dengan agak terperinci pada Al-Bidayah wa Al-Nihayah, 14:27-48, Siyar A’lamin Nubala, 8:163-188)
Wallahu a’lam.
Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 5 Tahun Ke-8 1429H/2008 M
Artikel www.KisahMuslim.com
Umar bin Abdul Aziz (Bagian 2)
Umar bin Abdul Aziz (Bagian 2)
Faktor KeluargaUmar bin Abdul Aziz melewati masa kanak-kanaknya di Kota Madinah An-Nabawiyah. Kota yang dipenuhi dengan aroma kenabian. Bagaimana tidak, pada saat itu masih banyak para sahabat berjalan-jalan di kota yang dahulunya disebut Yatsrib ini, di antara pembesar sahabat duduk-duduk di masjid mengajarkan ilmu yang mereka miliki, dan rumah-rumah nabi pun masih meninggalakn jejak-jejaknya yang mulia.
Umar bin Abdul Aziz tergolong anak yang cerdas dan memiliki hapalan yang kuat. Kedekatan kekerabtannya dengan Abdullah bin Umar bin Khattab, menyebabkannya sering bermain ke rumah sahabat nabi yang mulia ini. Suatu ketika ia mengatakan kepada ibunya sebuah cita-cita yang mulia dan menunjukkan jati diri Umar kecil, “Ibu, aku ingin menjadi seorang laki-laki dari paman ibu.” Ibunya pun menanggapi, “Sulit bagimu nak untuk meniru pamanmu itu.”
Terang saja ibunya mengatakan demikian, Abdullah bin Umar adalah salah seorang pembesar dari kalangan sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ia merupakan salah seorang yang paling banyak meriwayatkan hadis nabi, seseorang putera kesayangan dari orang yang paling mulia di masa Islam setelah Nabi Muhammad dan Abu Bakar Ash-Shiddiq, seorang ahli ibadah lagi mempunyai kedudukan terhormat, dan dicintai umat. Namun, Umar bin Abdul Aziz tak patah semangat, ia memiliki jiwa yang tangguh sebagaimana kakeknya Umar bin Khattab.
Ayah Umar bin Abdul Aziz adalah seorang gubernur di Mesir. Suatu ketika ia mengirim surat ke ibu kota yang berisikan mengajak anak dan istrinya untuk menyertainya di Negeri Mesir. Sang ibu pun berkonsultasi dengan Abdullah bin Umar, kemudian Ibnu Umar menasihatinya, “Keponakanku, dia adalah suamimu, pergilah kepadanya.” Manakala Ummu Ashim hendak berangkat, Ibnu Umar mengatakan, “Tinggalkanlah anakmu ini –Umar bin Abdul Aziz- bersama kami, dia satu-satunya anakmu yang mirip dengan keluarga besar Al-Khattab.” Ummu Ashim tidak membantah, dan dia meninggalkan anaknya bersama pamannya tersebut.
Ketika sampai di Mesir, sang ayah pun menanyakan perihal Umar bin Abdul Aziz. Ummu Ashim mengabarkan apa yang terjadi, berbahagialah Abdul Aziz mendengar kabar tersebut. Ia mengirim surat kepada saudaranya, Abdul Malik di Madinah agar mencukupi kebutuhan anaknya di Madinah. Abdul Malik menetapkan seribu dinar setiap bulannya untuk biaya hidup Umar bin Abdul Aziz. Setelah beberapa saat, Umar bin Abdul Aziz pun menyusul ayahnya ke Mesir.
Demikianlah lingkungan keluarga Umar bin Abdul Aziz, tumbuh di bawah asuhan pamannya yang saleh dan lingkungan Kota Madinah yang dipenuhi cahaya dengan banyaknya sahabat-sahabat nabi. Di masa mendatang sangat terlihat pengaruh lingkungan tumbuh kembangnya ini dalam kehidupannya.
Kecintaan Umar bin Abdul Aziz Terhadap Ilmu Sejak Dini dan Hafalannya Terhadap Alquran Al-Karim
Umar bin Adbdul Aziz telah menghapal Alquran pada usia anak-anaknya, ia sangat mencintai ilmu agama. Terbukti dengan kebiasaannya berkumpul dengan para sahabat nabi dan menimba ilmu di majlis mereka.Ia sering menadaburi ayat-ayat Alquran sampai menangis tersedu-sedu. Ibnu Abi Dzi’ib mengisahkan, “Orang yang menyaksikan Umar bin Abdul Aziz yang saat itu masih menjabat Gubernur Madinah, menyampaikan kepadaku bahwa di depan Umar ada seorang laki-laki membaca ayat,
وَإِذَآ أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُّقَرَّنِينَ
دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا
“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka
itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.”
(QS. Al-Furqon: 13).Maka Umar pun menangis sampai ia tidak bisa menguasai dirinya, pecahlah isak tangisnya, lalu ia pun pulang ke rumahnya untuk menyembunyikan hal itu.
Makna ayat ini adalah, ketika orang-orang yang mendustakan Hari Kiamat itu dicampakkan di tempat yang sempit di neraka, tangan-tangan mereka di belenggu ke leher mereka ‘mereka di sana mengharapkan kebinasaan’ Harapan binasa di sini sebagai ungkapan sebagai ungkapan penyesalan mendalam dari orang-orang itu, karena sewaktu di dunia mereka menjauhi ketaatand dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Abu Maudud mengabarkan, “Sampai berita kepadaku bahwa pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz membaca,
وَمَاتَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَاتَتْلُوا مِنْهُ مِنْ
قُرْءَانٍ وَلاَتَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا
“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu
ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan
Kami menjadi saksi atasmu.” (QS. Yunus: 61).Umar bin Abdul Aziz pun menangis, sampai orang-orang di rumahnya pun mendengar suara tangisnya. Ketika anaknya Abdul Malik menghampirinya dan bertanya, “Wahai ayahanda apa yang terjadi?” Umar menjawab, “Anakku, ayahmu ini tidak mengenal dunia dan dunia pun tidak mengenalnya. Demi Allah wahai anakku, sungguh aku khawatir binasa. Demi Allah wahai anakku, aku takut menjadi penghuni neraka.”
Ayat di atas menerangkan bahwasanya Allah mengetahui segala sesuatu yang kita perbuat. Dan Umar bin Abdul Aziz dengan kesalehannya dan jasanya yang banyak terhadap umat Islam khawatir kalau ia menjadi penghuni neraka karena banyak berbuat salah. Lalu bagaimana dengan kita?
Abdul A’la bin Abu Abdullah Al-Anzi mengatakan, “Aku melihat Umar bin Abdul Aziz keluar di hari Jumat dengna pakaian yang sudah usang. Pada hari itu ia naik mimbar Jumat dan berkhutbah dengan membaca surat At-Takwir
“Apabila matahari digulung.” Ia mengatakan, “Ada apa dengan amtahari?” kemudian ayat kedua, “Dan apabila bintang-bintang berguguran.” Sampai pada ayat “Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dan apabila surge didekatkan.” Beliau menangis, dan ketulusan tangisan tersebut menyentuh kalbu jamaah yang hadir pada saat itu, akhirnya mereka terenyuh dan ikut menangis.
Bersambung insyaAllah…
Artikel www.KisahMuslim.com
Wanita Mulia Ibu dari Seorang Pahlawan Belia (Selesai)
Abu Qudamah melanjutkan, “Usai mendengar cerita indah dari si bocah
tadi, aku berkata kepadanya, “InsyaAllah mimpimu merupakan pertanda
baik.”
Lalu kami pun menyantap hidangan tadi bersama-sama, kemudian meneruskan perjalanan kami menuju pos perbatasan.
Setibanya di pos perbatasan kami menurunkan semua muatan dan bermalam di sana. Keesokan harinya setelah menunaikan shalat fajar, kita bergerak ke medan pertempuran untuk menghadapi musuh.
Sang komandan bangkit untuk mengatur barisan. Ia membaca permulaan surat Al-Anfal. Ia mengingatkan kami akan besarnya pahala jihad fi sabilillah dan mati syahid, sembari terus mengobarkan semangat jihad kaum muslimin.”
Abu Qudamah mengisahkan, “Tatkala kuperhatikan orang-orang di sekitarku, kudapati masing-masing dari mereka mengumpulkan sanak kerabatnya di sekitarnya. Adapun si bocah, ia tak punya ayah yang memanggilnya, atau paman yang mengajaknya, dan tidak pula saudara yang mendampinginya.
Aku pun terus mengikuti dan memperhatikan gerak-geraknya, lalu tampaklah olehku bahwa ia berada di barisan terdepan. Maka segeralah kukejar dia, kusibak barisan demi barisan hingga sampai kepadanya, kemudian aku berkata,
“Wahai anakku, adakah engkau memiliki pengalaman berperang..?”
“Tidak.. tidak pernah. Ini justru pertempuranku yang pertama kali melawan orang kafir,” jawab si bocah.
“Wahai anakku, sesungguhnya perkara ini tak segampang yang kau bayangkan, ini adalah peperangan. Sebuah pertumpahan darah di tengah gerincingnya pedang, ringkikan kuda, dan hujan panah.
Wahai anakku, sebaiknya engkau ambil posisi di belakang saja. Jika kita menang kaupun ikut menang, namun jika kita kalah kau tak jadi korban pertama,” pintaku kepadanya.
“Ya, aku mengatakan seperti itu kepadamu,” jawabku.
“Paman.. apa engkau menginginkanku jadi penghuni neraka?” tanyanya.
“A’udzubillah!! Sungguh, bukan begitu.. kita semua tidak berada di medan jihad seperti ini kecuali karena lari dari neraka dan memburu surga,” jawabku.
Lalu kata si bocah, “Sesungguhnya Allah berfirman,
“Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya itu.” (QS. Al-Anfal: 15-16)
“Adakah Paman menginginkan aku berpaling membelakangi mereka sehingga tempat kembaliku adalah neraka?” tanya si bocah.
Aku pun heran dengan kegigihannya dan sikapnya yang memegang teguh ayat tersebut. Kemudian aku berusaha menjelaskan, “Wahai anakku, ayat itu maksudnya bukan seperti yang kau katakan.” Namun tetap saja ia bersikeras tak mau pindah ke belakang. Aku pun menarik tangannya secara paksa, membawa ke akhir barisan. Namun ia justru menarik lengannya kembali seakan ingin melepaskan diri dari genggamanku. Lalu perang pun dimulai dan aku terhalang oleh pasukan berkuda darinya.
Dalam kancah pertempuran itu terdengarlah derap kaki kuda, diirngi gemerincing pedang dan hujan panah, lalu mulailah kepala-kepala berjatuhan satu-persatu. Bau anyir darah tercium di mana-mana. Tangan dan kaki bergelimpangan. Dan tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah darah.
Demi Allah, perang itu telah menyibukkan tiap orang akan dirinya sendiri dan melalaikan orang lain. Sabetan dan kilatan pedang di atas kepala yang tak henti-hentinya, menjadikan suhu memuncak, seakan-akan ada tungku tanur yang menyala di atas kami.
Perang pun kian memuncak, kedua pasukan bertempur habis-habisan hingga matahari tergelincir dan masuk waktu zhuhur. Ketika itulah Allah berkenan menganugerahkan kemenangan bagi kaum muslimin, dan pasukan Salib lari tunggang-langgang.
Setelah mereka terpukul mundur, aku berkumpul bersama beberapa orang sahabatku untuk menunaikan shalat zuhur. Selepas shalat, mulailah masing-masing dari kita mencari sanak keluarganya di antara para korban.
Sedangkan si bocah,, maka tak seorang pun yang mencarinya atau menanyakan kabarnya. Maka kukatakan dalam hati, “Aku harus mencarinya dan menyelidiki keadaannya, barangkali ia terbunuh, terluka, atau jatuh dalam tawanan musuh?”
Aku pun mulai mencarinya di tengah para korban, aku menoleh ke kanan dan ke kiri kalau-kalau ia terlihat olehku. Di saat itulah aku mendengar ada suara lirih di belakangku yang mengatakan, “Saudara-saudara.. tolong panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari.. panggilkan Abu Qudamah kemari.”
Aku menoleh ke arah suara tadi, ternyata tubuh itu ialah tubuh si bocah dan ternyata puluhan tombak telah menusuk tubuhnya. Ia babak belur terinjak pasukan berkuda. Dari mulutnya keluar darah segar. Dagingnya tercabik-cabik dan tulangnya remuk total.
Ia tergeletak seorang diri di tengah padang pasir. Maka aku segera bersimpuh di hadapannya dan berteriak sekuat tenagaku,
“Akulah Abu Qudamah..!! aku ada di sampingmu..!!”
“Segala puji bagi Allah yang masih menghidupkanku hingga aku dapat berwasiat kepadamu.. maka dengarlah baik-baik wasiatku ini..!” kata si bocah.
Abu Qudamah mengatakan, sungguh demi Allah, tak kuasa menahan tangisku. Aku teringat akan segala kebaikannya, sekaligus sedih akan ibunya yang tinggal di Raqqah. Tahun lalu ia dikejutkan dengan kematian suami dan saudara-saudaranya, lalu sekarang dikejutkan dengan kematian anaknya.
Aku menyingsingkan sebagian kainku lalu mengusap darah yang menutup wajah polos itu. Ketika ia merasakan sentuhanku ia berkata, “Paman.. usaplah darah dengan pakaianku, dan jangan kau usap dengan pakaianmu.”
Demi Allah, aku tak kuasa menahan tangisku dan tak tahu harus berbuat apa. Sesaat kemudian, bocah itu berkata dengan suara lirih, “Paman.. berjanjilah bahwa sepeninggalku nanti kau akan kembali ke Raqqah, dan memberi kabar gembira bagi ibuku bahwa Allah telah menerima hadiahnya, dan bahwa anaknya telah gugur di jalan Allah dalam keadaan maju dan pantang mundur. Sampaikan pula padanya jikalau Allah menakdirkanku sebagai syuhada, akan kusampaikan salamnya untuk ayah dan paman-pamanku di surga.
Paman.. aku khawatir kalau nanti ibu tak mempercayai ucapanku. Maka ambillah pakaianku yang berlumuran darah ini, karena bila ibu melihatnya ia akan yakin bahwa aku telah terbunuh, dan insya Allah kami bertemu kembali di surga.
Paman.. setibanya engkau di rumahku, akan kau dapati seorang gadis kecil berumur sembilan tahun. Ia adalah saudariku.. tak pernah aku masuk rumah kecuali ia sambut dengan keceriaan, dan tak pernah aku pergi kecuali diiringi isak tangis dan kesedihannya. Ia sedemikian kaget ketika mendengar kematian ayah tahun lalu, dan sekarang ia akan kaget mendengar kematianku.
Ketika melihatku mengenakan pakaian safar ia berkata dengan berat hati, “Kak.. jangan kau tinggalkan kami lama-lama.. segeralah pulang..!!”
Paman.. jika engkau bertemu dengannya maka hiburlah hatinya dengan kata-kata yang manis. Katakan kepadanya bahwa kakakmu mengatakan, “Allah-lah yang akan menggantikanku mengurusmu.”
Abu Qudamah melanjutkan, “Kemudian bocah itu berusaha menguatkan dirinya, namun napas mulai sesak dan bicaranya tak jelas. Ia berusaha kedua kalinya untuk menguatkan dirinya dan berkata,
“Paman.. demi Allah, mimpi itu benar.. mimpi itu sekarang menjadi kenyataan. Demi Allah, saat ini aku benar-benar sedang melihat al-mardhiyyah dan mencium bau wanginya.”
Lalu bocah itu mulai sekarat, dahinya berkeringat, napasnya tersengal-sengal dan kemudian wafat di pangkuanku.”
Abu Qudamah berkata, “Maka kulepaslah pakaiannya yang berlumuran darah, lalu kuletakkan dalam sebuah kantong, kemudian kukebumikan dia. Usai mengebumikannya, keinginan terbsesar ku ialah segera kembali ke Raqqah dan menyampaikan pesannya kepada ibunya.
Maka aku pun kembali ke Raqqah. Aku tak tahu siapa nama ibunya dan di mana rumah mereka.
Takkala aku menyusuri jalan-jalan di Raqqah, tampak olehku sebuah rumah. Di depan rumah itu ada gadis kecil berumur sembilan tahun yang berdiri menunggu kedatangan seseorang. Ia melihat-lihat setiap orang yang berlalu di depannya. Tiap kali melihat orang yang baru datang dari bepergian ia bertanya,
“Paman.. Anda datang dari mana?”
“Aku datang dari jihad,” kata lelaki itu.
“Kalau begitu kakakku ada bersamamu..?” tanyanya.
“Aku tak kenal, siapa kakakmu..?” kata lelaki itu sambil berlalu.
Lalu lewatlah orang kedua, dan tanyanya.
“Akhi, Anda datang dari mana?”
“Aku datang dari jihad,” jawabnya.
“Kakakku ada bersamamu?” tanya gadis itu.
“Aku tak kenal siapa kakakmu,” jawabnya sambil berlalu.
Lalu lewatlah orang ketiga, keempat, dan demikian seterusnya. Lalu setelah putus asa menanyakan saudaranya, gadis itu menangis sambil tertunduk dan berkata,
“Mengapa mereka semua kembali tapi kakakku tak kunjung kembali?”
Melihat ia seperti itu, aku pun datang menghampirinya. Ketika ia melihat bekas-bekas safar padaku dan kantong yang kubawa, ia bertanya,
“Paman.. Anda datang dari mana?
“Aku datang dari jihad,” jawabku.
“Kalau begitu kakakku ada bersamamu?” tanyanya.
“Dimanakah ibumu?” tanyaku.
“Ibu ada di dalam rumah,” jawabnya.
“Sampaikan kepadanya agar ia keluar menemuiku,” perintahku kepadanya.
Ketika perempuan tua itu keluar, ia menemuiku dengan wajah tertutup gaunnya. Ketika aku mendengar suaranya dan ia mendengar suaraku, ia bertanya,
“Hai Abu Qudamah, engkau datang hendak berbela sungkawa atau memberi kabar gembira?”
Maka tanyaku, “Semoga Allah merahmatimu. Jelaskanlah kepadaku apa yang kau maksud dengan bela sungkawa dan kabar gembira itu?”
“Jika kau hendak mengatakan bahwa anakku telah gugur di jalan Allah, dalam keadaan maju dan pantang mundur berarti engkau datang membawa kabar gembira untukku, karena Allah telah menerima hadiahku yang telah kusiapkan untuk-Nya sejak tujuh belas tahun silam.
Namun jika engkau hendak mengatakan bahwa anakku kembali dengan selamat dan membawa ghanimah, berarti engkau datang untuk berbela sungkawa kepadaku, karena Allah belum berkenan menerima hadiah yang kupersembahkan untuk-Nya,” jelas si perempuan tua.
Maka kataku, “Kalau begitu aku datang membawa kabar gembira untukmu. Sesungguhnya anakmu telah terbunuh fi sabilillah dalam keadaan maju dan pantang mundur. Ia bahkan masih menyisakan sedikit kebaikan, dan Allah berkenan untuk mengambil sebagian darahnya hingga ia ridha.”
“Tidak, kurasa engkau tidak berkata jujur,” kata ibu sembari melirik kepada kantong yang kubawa, sedang puterinya menatapku dengan seksama.
Maka kukeluarkanlah isi kantong tersebut, kutunjukkan kepadanya pakaian puteranya yang berlumuran darah.
Nampak serpihan wajah anaknya berjatuhan dari kain itu, diikuti tetesan darah yang tercampur beberapa helai rambutnya.
“Bukankah ini adalah pakaiannya.. dan ini surbannya.. lalu ini gamisnya yang kau kenakan pada anakmu sewaktu berangkat berjihad..?” kataku.
“Allahu Akbar..!!” teriak si ibu kegirangan.
Adapun gadis kecil tadi, ia justru berteriak histeris lalu jatuh terkulai tak sadarkan diri. Tak lama kemudian ia mulai merintih, “Aakh..! aakh..!”
Sang ibu merasa cemas, ia bergegas masuk ke dalam mengambil air untuk puterinya, sedang aku duduk di samping kepalanya, mengguyurkan air kepadanya,
Demi Allah, ia tak sedang merintih.. ia tak sedang memanggil-manggil kakaknya. Akan tetapi ia sedang sekarat!! Napasnya semakin berat.. dadanya kembang kempis.. lalu perlahan rintihannya terhenti. Ya, gadis itu telah tiada.
Setelah puterinya tiada, ia mendekapnya lalu membawanya ke dalam rumah dan menutup pintu di hadapanku. Namun sayup-sayup terdengar suara dari dalam,
“Ya Allah, aku telah merelakan kepergian suamiku, saudaraku, dan anakku di jalan-Mu. Ya Allah, kuharap Engkau meridhaiku dan mengumpulkanku bersama mereka di Surga-Mu.”
Abu Qudamah berkata, “Maka kuketuk pintu rumahnya dengan harapan ia membukakan. Aku ingin memberinya sejumlah uang, atau menceritakan kepada orang-orang tentang kesabarannya hingga kisahnya menjadi teladan. Akan tetapi sungguh, ia tak membukakanku maupun menjawab seruanku.
“Sungguh demi Allah, tak pernah kualami kejadian yang lebih menakjubkan dari ini,” kata Abu Qudamah mengakhiri kisahnya.
Lihatlah, bagaimana si ibu mengorbankan segala yang ia miliki demi menggapai kebahagiaan ukhrawi. Ia perintahkan anaknya untuk berjihad fi sabilillah demi keridhaan Ilahi. Maka bagaimanakah nasib para pemalas seperti kita. Apa yang telah kita korbankan demi keridhaan-Nya?
Sumber: Ibunda Para Ulama, Sufyan bin Fuad Baswedan, Wafa Press, Cetakann Pertama Ramadhan 1427 H / Oktober 2006
Artikel www.KisahMuslim.com
Lalu kami pun menyantap hidangan tadi bersama-sama, kemudian meneruskan perjalanan kami menuju pos perbatasan.
Setibanya di pos perbatasan kami menurunkan semua muatan dan bermalam di sana. Keesokan harinya setelah menunaikan shalat fajar, kita bergerak ke medan pertempuran untuk menghadapi musuh.
Sang komandan bangkit untuk mengatur barisan. Ia membaca permulaan surat Al-Anfal. Ia mengingatkan kami akan besarnya pahala jihad fi sabilillah dan mati syahid, sembari terus mengobarkan semangat jihad kaum muslimin.”
Abu Qudamah mengisahkan, “Tatkala kuperhatikan orang-orang di sekitarku, kudapati masing-masing dari mereka mengumpulkan sanak kerabatnya di sekitarnya. Adapun si bocah, ia tak punya ayah yang memanggilnya, atau paman yang mengajaknya, dan tidak pula saudara yang mendampinginya.
Aku pun terus mengikuti dan memperhatikan gerak-geraknya, lalu tampaklah olehku bahwa ia berada di barisan terdepan. Maka segeralah kukejar dia, kusibak barisan demi barisan hingga sampai kepadanya, kemudian aku berkata,
“Wahai anakku, adakah engkau memiliki pengalaman berperang..?”
“Tidak.. tidak pernah. Ini justru pertempuranku yang pertama kali melawan orang kafir,” jawab si bocah.
“Wahai anakku, sesungguhnya perkara ini tak segampang yang kau bayangkan, ini adalah peperangan. Sebuah pertumpahan darah di tengah gerincingnya pedang, ringkikan kuda, dan hujan panah.
Wahai anakku, sebaiknya engkau ambil posisi di belakang saja. Jika kita menang kaupun ikut menang, namun jika kita kalah kau tak jadi korban pertama,” pintaku kepadanya.
“Ya, aku mengatakan seperti itu kepadamu,” jawabku.
“Paman.. apa engkau menginginkanku jadi penghuni neraka?” tanyanya.
“A’udzubillah!! Sungguh, bukan begitu.. kita semua tidak berada di medan jihad seperti ini kecuali karena lari dari neraka dan memburu surga,” jawabku.
Lalu kata si bocah, “Sesungguhnya Allah berfirman,
“Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya itu.” (QS. Al-Anfal: 15-16)
“Adakah Paman menginginkan aku berpaling membelakangi mereka sehingga tempat kembaliku adalah neraka?” tanya si bocah.
Aku pun heran dengan kegigihannya dan sikapnya yang memegang teguh ayat tersebut. Kemudian aku berusaha menjelaskan, “Wahai anakku, ayat itu maksudnya bukan seperti yang kau katakan.” Namun tetap saja ia bersikeras tak mau pindah ke belakang. Aku pun menarik tangannya secara paksa, membawa ke akhir barisan. Namun ia justru menarik lengannya kembali seakan ingin melepaskan diri dari genggamanku. Lalu perang pun dimulai dan aku terhalang oleh pasukan berkuda darinya.
Dalam kancah pertempuran itu terdengarlah derap kaki kuda, diirngi gemerincing pedang dan hujan panah, lalu mulailah kepala-kepala berjatuhan satu-persatu. Bau anyir darah tercium di mana-mana. Tangan dan kaki bergelimpangan. Dan tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah darah.
Demi Allah, perang itu telah menyibukkan tiap orang akan dirinya sendiri dan melalaikan orang lain. Sabetan dan kilatan pedang di atas kepala yang tak henti-hentinya, menjadikan suhu memuncak, seakan-akan ada tungku tanur yang menyala di atas kami.
Perang pun kian memuncak, kedua pasukan bertempur habis-habisan hingga matahari tergelincir dan masuk waktu zhuhur. Ketika itulah Allah berkenan menganugerahkan kemenangan bagi kaum muslimin, dan pasukan Salib lari tunggang-langgang.
Setelah mereka terpukul mundur, aku berkumpul bersama beberapa orang sahabatku untuk menunaikan shalat zuhur. Selepas shalat, mulailah masing-masing dari kita mencari sanak keluarganya di antara para korban.
Sedangkan si bocah,, maka tak seorang pun yang mencarinya atau menanyakan kabarnya. Maka kukatakan dalam hati, “Aku harus mencarinya dan menyelidiki keadaannya, barangkali ia terbunuh, terluka, atau jatuh dalam tawanan musuh?”
Aku pun mulai mencarinya di tengah para korban, aku menoleh ke kanan dan ke kiri kalau-kalau ia terlihat olehku. Di saat itulah aku mendengar ada suara lirih di belakangku yang mengatakan, “Saudara-saudara.. tolong panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari.. panggilkan Abu Qudamah kemari.”
Aku menoleh ke arah suara tadi, ternyata tubuh itu ialah tubuh si bocah dan ternyata puluhan tombak telah menusuk tubuhnya. Ia babak belur terinjak pasukan berkuda. Dari mulutnya keluar darah segar. Dagingnya tercabik-cabik dan tulangnya remuk total.
Ia tergeletak seorang diri di tengah padang pasir. Maka aku segera bersimpuh di hadapannya dan berteriak sekuat tenagaku,
“Akulah Abu Qudamah..!! aku ada di sampingmu..!!”
“Segala puji bagi Allah yang masih menghidupkanku hingga aku dapat berwasiat kepadamu.. maka dengarlah baik-baik wasiatku ini..!” kata si bocah.
Abu Qudamah mengatakan, sungguh demi Allah, tak kuasa menahan tangisku. Aku teringat akan segala kebaikannya, sekaligus sedih akan ibunya yang tinggal di Raqqah. Tahun lalu ia dikejutkan dengan kematian suami dan saudara-saudaranya, lalu sekarang dikejutkan dengan kematian anaknya.
Aku menyingsingkan sebagian kainku lalu mengusap darah yang menutup wajah polos itu. Ketika ia merasakan sentuhanku ia berkata, “Paman.. usaplah darah dengan pakaianku, dan jangan kau usap dengan pakaianmu.”
Demi Allah, aku tak kuasa menahan tangisku dan tak tahu harus berbuat apa. Sesaat kemudian, bocah itu berkata dengan suara lirih, “Paman.. berjanjilah bahwa sepeninggalku nanti kau akan kembali ke Raqqah, dan memberi kabar gembira bagi ibuku bahwa Allah telah menerima hadiahnya, dan bahwa anaknya telah gugur di jalan Allah dalam keadaan maju dan pantang mundur. Sampaikan pula padanya jikalau Allah menakdirkanku sebagai syuhada, akan kusampaikan salamnya untuk ayah dan paman-pamanku di surga.
Paman.. aku khawatir kalau nanti ibu tak mempercayai ucapanku. Maka ambillah pakaianku yang berlumuran darah ini, karena bila ibu melihatnya ia akan yakin bahwa aku telah terbunuh, dan insya Allah kami bertemu kembali di surga.
Paman.. setibanya engkau di rumahku, akan kau dapati seorang gadis kecil berumur sembilan tahun. Ia adalah saudariku.. tak pernah aku masuk rumah kecuali ia sambut dengan keceriaan, dan tak pernah aku pergi kecuali diiringi isak tangis dan kesedihannya. Ia sedemikian kaget ketika mendengar kematian ayah tahun lalu, dan sekarang ia akan kaget mendengar kematianku.
Ketika melihatku mengenakan pakaian safar ia berkata dengan berat hati, “Kak.. jangan kau tinggalkan kami lama-lama.. segeralah pulang..!!”
Paman.. jika engkau bertemu dengannya maka hiburlah hatinya dengan kata-kata yang manis. Katakan kepadanya bahwa kakakmu mengatakan, “Allah-lah yang akan menggantikanku mengurusmu.”
Abu Qudamah melanjutkan, “Kemudian bocah itu berusaha menguatkan dirinya, namun napas mulai sesak dan bicaranya tak jelas. Ia berusaha kedua kalinya untuk menguatkan dirinya dan berkata,
“Paman.. demi Allah, mimpi itu benar.. mimpi itu sekarang menjadi kenyataan. Demi Allah, saat ini aku benar-benar sedang melihat al-mardhiyyah dan mencium bau wanginya.”
Lalu bocah itu mulai sekarat, dahinya berkeringat, napasnya tersengal-sengal dan kemudian wafat di pangkuanku.”
Abu Qudamah berkata, “Maka kulepaslah pakaiannya yang berlumuran darah, lalu kuletakkan dalam sebuah kantong, kemudian kukebumikan dia. Usai mengebumikannya, keinginan terbsesar ku ialah segera kembali ke Raqqah dan menyampaikan pesannya kepada ibunya.
Maka aku pun kembali ke Raqqah. Aku tak tahu siapa nama ibunya dan di mana rumah mereka.
Takkala aku menyusuri jalan-jalan di Raqqah, tampak olehku sebuah rumah. Di depan rumah itu ada gadis kecil berumur sembilan tahun yang berdiri menunggu kedatangan seseorang. Ia melihat-lihat setiap orang yang berlalu di depannya. Tiap kali melihat orang yang baru datang dari bepergian ia bertanya,
“Paman.. Anda datang dari mana?”
“Aku datang dari jihad,” kata lelaki itu.
“Kalau begitu kakakku ada bersamamu..?” tanyanya.
“Aku tak kenal, siapa kakakmu..?” kata lelaki itu sambil berlalu.
Lalu lewatlah orang kedua, dan tanyanya.
“Akhi, Anda datang dari mana?”
“Aku datang dari jihad,” jawabnya.
“Kakakku ada bersamamu?” tanya gadis itu.
“Aku tak kenal siapa kakakmu,” jawabnya sambil berlalu.
Lalu lewatlah orang ketiga, keempat, dan demikian seterusnya. Lalu setelah putus asa menanyakan saudaranya, gadis itu menangis sambil tertunduk dan berkata,
“Mengapa mereka semua kembali tapi kakakku tak kunjung kembali?”
Melihat ia seperti itu, aku pun datang menghampirinya. Ketika ia melihat bekas-bekas safar padaku dan kantong yang kubawa, ia bertanya,
“Paman.. Anda datang dari mana?
“Aku datang dari jihad,” jawabku.
“Kalau begitu kakakku ada bersamamu?” tanyanya.
“Dimanakah ibumu?” tanyaku.
“Ibu ada di dalam rumah,” jawabnya.
“Sampaikan kepadanya agar ia keluar menemuiku,” perintahku kepadanya.
Ketika perempuan tua itu keluar, ia menemuiku dengan wajah tertutup gaunnya. Ketika aku mendengar suaranya dan ia mendengar suaraku, ia bertanya,
“Hai Abu Qudamah, engkau datang hendak berbela sungkawa atau memberi kabar gembira?”
Maka tanyaku, “Semoga Allah merahmatimu. Jelaskanlah kepadaku apa yang kau maksud dengan bela sungkawa dan kabar gembira itu?”
“Jika kau hendak mengatakan bahwa anakku telah gugur di jalan Allah, dalam keadaan maju dan pantang mundur berarti engkau datang membawa kabar gembira untukku, karena Allah telah menerima hadiahku yang telah kusiapkan untuk-Nya sejak tujuh belas tahun silam.
Namun jika engkau hendak mengatakan bahwa anakku kembali dengan selamat dan membawa ghanimah, berarti engkau datang untuk berbela sungkawa kepadaku, karena Allah belum berkenan menerima hadiah yang kupersembahkan untuk-Nya,” jelas si perempuan tua.
Maka kataku, “Kalau begitu aku datang membawa kabar gembira untukmu. Sesungguhnya anakmu telah terbunuh fi sabilillah dalam keadaan maju dan pantang mundur. Ia bahkan masih menyisakan sedikit kebaikan, dan Allah berkenan untuk mengambil sebagian darahnya hingga ia ridha.”
“Tidak, kurasa engkau tidak berkata jujur,” kata ibu sembari melirik kepada kantong yang kubawa, sedang puterinya menatapku dengan seksama.
Maka kukeluarkanlah isi kantong tersebut, kutunjukkan kepadanya pakaian puteranya yang berlumuran darah.
Nampak serpihan wajah anaknya berjatuhan dari kain itu, diikuti tetesan darah yang tercampur beberapa helai rambutnya.
“Bukankah ini adalah pakaiannya.. dan ini surbannya.. lalu ini gamisnya yang kau kenakan pada anakmu sewaktu berangkat berjihad..?” kataku.
“Allahu Akbar..!!” teriak si ibu kegirangan.
Adapun gadis kecil tadi, ia justru berteriak histeris lalu jatuh terkulai tak sadarkan diri. Tak lama kemudian ia mulai merintih, “Aakh..! aakh..!”
Sang ibu merasa cemas, ia bergegas masuk ke dalam mengambil air untuk puterinya, sedang aku duduk di samping kepalanya, mengguyurkan air kepadanya,
Demi Allah, ia tak sedang merintih.. ia tak sedang memanggil-manggil kakaknya. Akan tetapi ia sedang sekarat!! Napasnya semakin berat.. dadanya kembang kempis.. lalu perlahan rintihannya terhenti. Ya, gadis itu telah tiada.
Setelah puterinya tiada, ia mendekapnya lalu membawanya ke dalam rumah dan menutup pintu di hadapanku. Namun sayup-sayup terdengar suara dari dalam,
“Ya Allah, aku telah merelakan kepergian suamiku, saudaraku, dan anakku di jalan-Mu. Ya Allah, kuharap Engkau meridhaiku dan mengumpulkanku bersama mereka di Surga-Mu.”
Abu Qudamah berkata, “Maka kuketuk pintu rumahnya dengan harapan ia membukakan. Aku ingin memberinya sejumlah uang, atau menceritakan kepada orang-orang tentang kesabarannya hingga kisahnya menjadi teladan. Akan tetapi sungguh, ia tak membukakanku maupun menjawab seruanku.
“Sungguh demi Allah, tak pernah kualami kejadian yang lebih menakjubkan dari ini,” kata Abu Qudamah mengakhiri kisahnya.
Lihatlah, bagaimana si ibu mengorbankan segala yang ia miliki demi menggapai kebahagiaan ukhrawi. Ia perintahkan anaknya untuk berjihad fi sabilillah demi keridhaan Ilahi. Maka bagaimanakah nasib para pemalas seperti kita. Apa yang telah kita korbankan demi keridhaan-Nya?
Sumber: Ibunda Para Ulama, Sufyan bin Fuad Baswedan, Wafa Press, Cetakann Pertama Ramadhan 1427 H / Oktober 2006
Artikel www.KisahMuslim.com
Ibrahim Al-Harbi dan Buku-Bukunya
Ibrahim Al-Harbi dan Buku-Bukunya
Khathib Al-Baghdadi berkata dalam Tarikh Baghdad, VI: 31, Ibnu Abu Ya’la dalam Thabaqatul Hanabilah I: 86-88, dan Syamsuddin An-Nablusi dalam Mukhtasar-nya hal. 51 dan 294, tentang biografi Ibrahim bin Ishaq Al-Harbi (lahir tahun 198 H, dan wafat tahun 285 H di Baghdad). Ia seorang imam dan simbol dalam hal ilmu, kezuhudan, fiqih, hadis, sastra, dan bahasa,Khathib Al-Baghdadi berkata, bahwa Ibrahim Al-Harbi pernah menuturkan, “Aku telah menghabiskan umurku selama 30 tahun hanya dengan memakan dua potong roti. Jika ibuku atau saudaraku perempuanku datang membawanya kepadaku, maka aku memakannya. Namun jika tidak, maka aku tetap dalam keadaan lapar dan haus sampai malam yang kedua.
Aku juga telah menghabiskan 30 tahun dari umurku hanya dengan memakan satu potong roti setiap harinya. Jika istriku atau salah seorang anak perempuanku datang membawanya kepadaku, maka aku memakannya. Namun jika tidak, maka aku tetap dalam keadaan lapar dan haus sampai malam berikutnya.
Sekarang aku makan hanya dengan setengah potong roti dan empat butir kurma jika itu kurma bagus, atau dua puluh lebih jika itu kurma jelek. Tatkala anak perempuanku sakit, maka istriku mengunjunginya dan selalu merawatnya selama satu bulan penuh. Jatah berbukaku dalam sebulan ini hanya dengan satu dirham dan dua setengah daniq! Aku masuk pemandian, lalu membeli sabun untuk keluargaku dengan harga 2 daniq. Jadi, jatah belanjaku selama bulan Ramadhan ini adalah satu dirham dan empat setengah daniq.”
Abul Qasim bin Bukair berkata, “Aku pernah mendengar Ibrahim Al-Harbi menuturkan, ‘Kami tak pernah mengenal masakan-masakan ini sedikit pun. Dari sore berikutnya, ibuku hanya menyediakan maknanan untukku, berupa terong bakar atau sepotong lemak, atau sepirik lobak.”
Abu Ali Al-Khayyath (si penjahit), yang lebih dikenal dengan julukan Al-Mayyit (si mayit) bercerita, “Pada suatu hari, aku duduk bersama Ibrahim Al-Harbi di pintu rumahnya. Tatkala memasuki pagi hari, ia berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Ali, pergilah menunaikan kesibukanmu. Aku mempunyai sebuah lobak. Tadi maalm aku telah memakan daunnya. Sekarang aku akan memakan batangnya’.”
Kemudian Khathib Al-Baghdadi merwiyatkan dengan sanadnya yang disandarkan kepada Ahmad bin Salman An-Najjad, salah seorang ahli hadis dari kalangan ulama madzhab Hanbali angkatan pertama, juga salah seorang ahli fiqih yang miskin, namun tetap bersyukur, semoga Allah merahmatinya. Ahmad bin Salman An-Najjad Al-Qathi’i berkata, “Aku mengalami kesulitan hidup yang sangat. Maka, aku pergi menemui Ibrahim Al-Harbi untuk mengatakan kepadanya apa yang aku alami. Ia mengatakan kepadaku, ‘Janganlah dadamu merasa sempit, karena Allah pasti akan menolongmu. Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Bahkan, sampai pada tingkat keluargaku tidak memiliki apa-apa untuk mereka makan. Kemudian istriku berkata kepadaku, ‘Anggap saja aku dan kamu bisa bersabar, lalu bagaimana dengan dua anak perempuan yang masih kecil ini? Berikanlah sebagian bukumu. Kita jual atau gadaikan saja!’ Aku tak setuju dengan usulan istriku itu. Kukatakan kepadanya, ‘Berutanglah sesuatu untuk kedua anak perempuan kita. Beri aku kesempatan sampai besok pagi.’
Aku mempunyai sebuah kamar di salah satu sudut rumah untuk menyimpan buku-bukuku. Di dalamnya aku biasa duduk untuk menyalin buku dan mengkajinya. Pada malam itu ada seseorang mengetuk pintuku. Aku bertanya, ‘Siapa itu?’ Ia menjawab, ‘Seorang tetangga.’ Kukatakan, ‘Silakan masuk.’ Ia berkata, ‘Matikan dulu lampumu, baru aku masuk.’
Aku pun meredupkan sedikit lampuku, lalu kukatakan, Masuklah.’ Maka, ia masuk ke kamar di salah satu sudut rumah itu dan meletakkan sebuah kantong besar. Ia mengatakan kepadaku, ‘Kami membuat makanan yang cukup enak buat anak-anak kami, maka kami ingin kamu dan anak-anakmu mendapatkan bagian darinya. Adapun ini sesuatu yang lain.’ Ia meletakkannya di samping kantong besar itu seraya berkata, ‘Gunakan ia untuk keperluanmu.’ Aku tidak mengenal laki-laki itu. Lalu, ia meninggalkanku dan berlalu.
Aku memanggil istriku. Kukatakan kepadanya, “Nyalakan lampu.” Ia pun menyalakan lampu dan segera datang. Ternyata kantong tersebut berupa bungkusan makanan yang besar. Isinya lima puluh wadah makanan. Masing-masing wadah makanan itu berisi aneka jenis makanan. Dan, di samping bungkusan besar itu terdapat kantong berisi uang 1.000 dinar. Maka, aku berkata kepada istriku, “Bangunkan anak-anak agar mereka bisa makan.” Esok harinya kami melunasi utang dari uang tersebut.
Kala itu waktu kedatangan jamaah haji dari Khurasan. Aku duduk di pintu rumahku pada esok hari setelah kejadian malam itu. Tiba-tiba datanglah seorang pemelihara unta yang menuntun dua ekor unta dengan mengangkut dua karung rezeki di punggungnya. Ia menanyakan tentang rumah Ibrahim Al-Harbi. Tatkala ia tiba di depanku, kukatakan, ‘Aku Ibrahim Al-Harbi.” Kemudian ia menurunakn dua karung rezeki itu seraya berkata, ‘Dua karung ini adalah kiriman seseorang dari penduduk Khurasan.’ Aku bertanya, ‘Siapa dia?’ Ia menjawab, ‘Ia telah memintaku bersumpah agar tidak mengatakan siapa dia.’
Ahmad bin Salman An-Najjad berkata, ‘Aku pun beranjak dari samping Ibrahim Al-Harbi. Aku pergi ke kuburan Ahmad. Aku menziarahinya, lalu pulang. Tatkala aku sedang berjalan di pinggir parit, tiba-tiba ada seorang wantia tua tetangga kami berpapasan denganku. Ia bertanya kepadaku, ‘Mengapa kamu bersedih?’ Maka, aku menceritakan kepadanya apa yang kualami. Ia berkata, ‘Sebelum wafat, ibumu telah memberiku 300 dirham. Ibumu berpesan, ‘Simpanlah uang ini di rumahmu. Jika kamu melihat anakku mengalami kesulitan dan bersedih, maka berikanlah uang itu kepadanya.’ Oleh karena itu, ikutilah aku. Aku akan berikan uang tersebut kepadamu.’ Aku pun pergi mengikutinya, lalu ia memberikan uang tersebut kepadaku.”
Ahmad bin Salman An-Najjad ini, sebagaimana dikatakan oleh Khathib Al-Baghdadi saat menjelaskan tentang biografinya dalam Tarikh Baghdad, IV: 191, ia selalu berpuasa setahun penuh. Setiap malam, ia berbuka dengan satu potong roti dan menyisakan satu suapan. Jika malam Jumat tiba, maka jatah berbukanya ia sedekahkan, sementara ia sendiri berbuka dengan suapan-suapan yang sebelumnya telah ia sisihkan.
Kemudian Khathib Al-Baghdadi memaparkan dengan sanadnya yang disandarkan kepada Abul Qasim bin Al-Jabali, ia berkata, “Ibrahim Al-Harbi menderita suatu penyakit, hingga hampir wafat. Suatu hari, aku menjenguknya. Ia berkata kepadaku, ‘Wahai Abul Qasim, aku menghadapi masalah besar dengan anak perempuanku.’ Kemudian ia berkata kepada anak perempuannya, ‘Berdirilah, temuilah pamanmu.’ Anak perempuan itu pun keluar dan membuka cadarnya. Ibrahim berkata kepada anak perempuannya, ‘Ini adalah pamanmu, berbicaralah dengannya.’
Anak perempuan itu berkata, ‘Wahai paman, kami menghadapi masalah besar! Tapi tak terkait masalah dunia maupun akhirat! Selama satu bulan, satu tahun, kami tidak mempunyai makanan selain potongan-potongan roti kering dan garam. Terkadang tanpa garam. Kemarin Al-Mu’tadhid mengirimkan uang 1.000 dinar kepada bapak melalui Badar, tetapi bapak menolaknya. Fulan dan fulan juga mengirim uang kepada bapak, tetapi bapak juga tidak mengambil sedikit pun. Padahal bapak sedang sakit.’
Ibrahim menoleh ke arah anak perempuannya sambil tersenyum. Ia bertanya kepada anak perempuannya, ‘Wahai anakku, kamu takut miskin?’ Anak perempuannya menjawab, ‘Benar.’ Maka, ia berkata kepada anak perempuannya, ‘Lihatlah ke sudut itu.’ Anak perempuan itu melihat ke arah yang ditunjukkan bapaknya. Ternyata ada banyak buku. Kemudian Ibrahim berkata, ‘Di sana ada 12.000 juz buku bahasa dan kata-kata sulit. Aku telah menulisnya dengan tulisan tanganku. Jika aku mati, ambillah setiap hari satu juz. Kamu bisa menjualnya dengan harga satu dirham. Orang yang mempunyai 12.000 dirham, maka ia bukanlah orang miskin.”
Kemudian Khathib Al-Baghdadi memaparkan dengan sanadnya, dan Ibnul Jauzi dalam Manaqibul Imam Ahmad, Hal. 508, dengan sanadnya pula yang disandarkan kepada Abu Imran Al-Asyyab, ia berkata, “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibrahim Al-Harbi, ‘Bagaimana Anda mampu mengumpulkan buku-buku ini?’ Mendengar pertanyaan itu, Ibrahim Al-Harbi marah seraya berkata, ‘Aku mampu mengumpulkan buku-buku ini dengan daging dan darahku! Dengan daging dan darahku!”
Penulis berkomentar, bahwa jika kita mengetahui begitu cintanya Ibrahim Al-Harbi dengan buku-bukunya, dan bagaimana cara ia mengumpulkan buku-buku itu, yaitu dengan daging dan darahnya, maka mana mungkin ia mau menuruti saran istrinya saat berkata kepadanya, “Berikanlah sebagian bukumu. Kita jual atau kita gadaikan saja.”
Buku-buku bagi para istri laksana istri kedua suami yang merugikannya. Begitu para istri itu tertimpa kesulitan untuk pertama kalinya, maka pikiran mereka langsung tertuju kepada buku-buku itu untuk dijual dan dikeluarkan dari rumah. Adapun buku-buku bagi para ulama laksana para saudara sekaligus penolongnya. Manakala mereka ditimpa kesempitan, mereka akan mampu bersabar bila harus kelaparan, tidak memiliki pakaian, dan miskin. Akan tetapi, mereka takkan ammpu bersabar bila harus berpisah dengan buku-buku tersebut dan menjualnya.
Sumber: Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama, Syaikh Abdul Fatah, Zam Zam, Cetakan:1: 2008
Artikel www.KisahMuslim.com
Perdagangan yang Menguntungkan, Perdagangan Abu Dahdah
Diriwayatkan dari Tsabit bin al-Bunani dari Anas bahwasanya seorang
lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, Fulan mengakui pohon kurma sebagai
miliknya, padahal pohon itu ada dalam kebun saya.” Kemudian Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya dia memberikan pohon itu
kepadanya. Nabi bersabda, “Berikan kepadanya, kamu akan mendapatkan
ganti pohon kurma di surga.” Sayang sekali,
lelaki itu tidak mau mengikuti saran Nabi.
Tiba-tiba Abu Dahdah datang dia berkata, “Juallah pohon kurmamu kepadaku, aku tukar dengan kebunku.” Dia menyetujuinya. Lalu Abu Dahdah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, aku telah membeli pohon kurma itu, aku bayar dengan kebunku. Sekarang pohon kurma itu aku berikan kepadamu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alangkah banyaknya tandan kurma yang harum baunya milik Abu Dahdah di surga kelak.” Rasulullah mengucapkan kalmiat tersebut berulang kali.
Abu Dahdah kemudian menemui isterinya, dia berkata, “Wahai Ummu Dahdah, infakkan hartaku, aku telah membelinya dengan pohon kurma di Surga.” Isterinya menjawab, “Alangkah beruntungnya jual beli (perniagaan) itu.” atau dia mengucapkan dengan kalimat yang sejenisnya.
Sumber: 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan:5 Shafar 1430/2009
Tiba-tiba Abu Dahdah datang dia berkata, “Juallah pohon kurmamu kepadaku, aku tukar dengan kebunku.” Dia menyetujuinya. Lalu Abu Dahdah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, aku telah membeli pohon kurma itu, aku bayar dengan kebunku. Sekarang pohon kurma itu aku berikan kepadamu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alangkah banyaknya tandan kurma yang harum baunya milik Abu Dahdah di surga kelak.” Rasulullah mengucapkan kalmiat tersebut berulang kali.
Abu Dahdah kemudian menemui isterinya, dia berkata, “Wahai Ummu Dahdah, infakkan hartaku, aku telah membelinya dengan pohon kurma di Surga.” Isterinya menjawab, “Alangkah beruntungnya jual beli (perniagaan) itu.” atau dia mengucapkan dengan kalimat yang sejenisnya.
Sumber: 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan:5 Shafar 1430/2009
Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi Sang Pemburu Hadis
Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi
Tercantum dalam biografi seorang hafizh dan ahli Maqdisi. Lahir di Baitul Maqdis tahun 448 H, dan wafat tahun 507 H. Tercantum pula dalam biografinya yang terlampir di akhir-akhir kitabnya Al-Jam’u Baina Rijalish Shahihain, Hal. 633, sebagai berikut:As-Sam’ani menuturkan, “Aku mendengar beberapa Syaikh berkata, ‘Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi pernah berjalan dalam satu malam hampir sejauh 17 farsakh. Biasanya ia berjalan dalam sehari semalam sejauh 20 farsakh. Ia mengikuti madzhab Dawud – yakni madzhab zhahiriyah –. Ia adalah salah seorang pengembara yang mencari hadis.
Ia mengambil hadis di Mesir, perbatasan-perbatasan dan kota-kota di Syam, Hijaz, Jazirah, Irak, Persia, Khurasan, Iskandaria, Tunis, Baitul Maqdis, Damaskus, Halb, Mekah, Baghdad, Ashbahan, Jurjan, Amid, Naisabur, Herat dan Marwa. Menurutku tak ada seseorang yang melakukan pengembaraan pada masanya seperti pengembaraannya. Ia telah menulis banyak kitab, karya-karya besar, musnad-musnad dan juz-juz yang berserakan’.”
Al-Hafizh As-Silafi menuturkan, “Aku mendengar Al-Hafizh Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi berkata, ‘Aku telah menulis Shahihul Bukhari, Shahih Muslim dan Shahih Abu Dawud tujuh kali dengan mendapat upah. Aku juga telah menulis Sunan Ibnu Majah sepuluh kali dengan mendapat upah, selain yang terpisah-pisah di Rayy’.”
Muhammad bin Thahir berkata, “Aku pernah kencing darah dalam mencari hadis dua kali; sekali di Baghdad dan sekali di Mekah. Pasalnya, aku berjalan tanpa alas kaki di bawah terik matahari, sehingga hal itu menimpaku! Aku tidak pernah mengendarai hewan tunggangan dalam mencari hadis, kecuali hanya sekali. Aku memanggul sendiri kitab-kitabku di atas punggungku, sampai aku bermukim di suatu kota. Selama mencari hadis, aku tidak pernah meminta-minta kepada seorang pun. Aku hidup dari apa yang aku dapatkan, tanpa meminta-minta.
Aku telah melakukan perjalanan dari Thus ke Ashbahan demi mendapatkan hadis Abu Zur’ah Ar-Razi, yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Ash-Shahih. Beberapa ahli hadis mengingatkanku tentang hadis Abu Zur’ah itu pada malam hari. Ketika pagi hari tiba, aku menyiapkan untaku, lalu aku pergi ke Ashbahan. Aku terus memburu hadis Abu Zur’ah itu, hingga aku bertemu dengan Syaikh Abu Amru. Kemudian aku belajar hadis Abu Zur’ah itu kepada Syaikh Abu Amru yang bersumber dari bapaknya, dari Abu bakar Al-Qaththan, dari Abu Zur’ah. Abu Amru memberikut tiga potong roti dan dua biji jambu. Pada malam itu, aku memang tidak mempunyai makanan. Hanya itu makananku. Kemudian aku bermulazamah kepada Abu Amru, sampai aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Setelah itu, aku berangkat ke Baghdad. Ketika kau kembali ke Ashbahan lagi, Syaikh Abu Amru telah wafat, semoga Allah merahmatinya.
Suatu hari aku belajar satu juz kitab kepada Abu Ishaq Al-Jabbal di Mesir. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berasal dari kotaku datang dari Baitul Maqdis menemuiku. Ia membisikiku, ‘Saudaramu telah tiba di Syam.’ Itu terjadi setelah orang-orang Turki masuk ke Baitul Maqdis dan membunuh banyak orang. Aku terus membaca, tapi aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku selalu salah dalam membaca. Maka, Abu Ishaq bertanya kepadaku, ‘Ada apa denganmu?’ ‘Baik-baik saja.’ Jawabku. Ia berkata, ‘Kamu harus memberitahuku apa yang dibisikkan oleh laki-laki itu kepadamu.’ Aku pun berterus-terang kepada Abu Ishaq. Ia bertanya, ‘Berapa lama kamu tidak bertemu dengan saudaramu?’ Kujawab, ‘Bertahun-tahun.’ Ia bertanya lagi, ‘Lalu mengapa kamu tidak pernah menemuinya?’ Kujawab, ‘Aku akan menemuinya setelah menyelesaikan satu juz ini.’ Ia pun berkomentar, ‘Betapa besarnya kegigihan kalian, wahai ashabul hadis. Majelis telah selesai. Semoga Allah mencurahkan shalawat kepada Muhammad.’ Kemudian Abu Ishaq pergi.
Aku bermukim di Tunisia beberapa waktu untuk belajar kepada Abu Muhammad bin Haddad dan kawan-kawannya. Aku mengalami kesulitan hidup, uangku tidak ada yang tersisa selain satu dirham. Pada hari itu aku butuh roti dan kertas untuk menulis. Aku bingung, jika uang itu kubelikan roti, maka aku tidak bisa membeli kertas. Sebaliknya, jika uang itu kubelikan kertas, maka kau tidak bisa membeli roti. Kondisi seperti ini berlangsung selama tiga hari tiga malam, akhirnya, aku tak makan apa-apa (memilih membeli kertas).
Di pagi hari yang keempat, aku berkata kepada diriku sendiri, ‘Kalau aku mempunyai kertas, maka aku takkan mampu menulis apa pun karena aku kelaparan.’ Akhirnya, aku meletakkan uang satu dirham itu di mulutku. Aku keluarkan untuk membeli roti. Uang satu dirham itu tertelan olehku (karena telah dibelikan roti). Aku pun tertawa. Aku bertemu dengan Abu Thahir bin Khaththab Ash-Shaigh Al-Mawaqiti di Tunisia pada saat aku tertawa. Ia bertanya, ‘Apa yang membuatmu tertawa?’ Kujawab, ‘Baik-baik saja.’ Ia terus mendesakku, tapi aku tetap menolak untuk memberitahukannya. Maka, ia bersumpah seraya berkata, ‘Katakanlah dengan jujur, mengapa kamu tertawa?’ Karena terdesak, aku pun berterus-terang kepadanya. Kemudian ia menggandengku dan membawaku ke rumahnya. Ia menjamin makananku pada hari itu.
Di waktu Zuhur, aku keluar untuk menunaikan shalat zuhur bersama Abu Thahir. Ia dikerumuni oleh para pembantu seorang pembesar di Tunisia bernama Ibnu Qadus. Ibnu Qadus menanyakan kepada Abu Thahir tentang diriku. Abu Thahir menjawab, ‘Ini dia orangnya.’ Ibnu Qadus berkata, “Tuanku –yakni pemimpin Tunisia– memerintahkan diriku untuk memberinya uang 10 dirham yang nilainya setara seperempat dinar setiap harinya, tetapi aku lupa.’ Ibnu Qadus pun mengambil uang 300 dirham, lalu mendatangiku seraya berkata, ‘Allah telah memudahkan suatu rezeki yang tak terduga sebelumnya.’ Kemudian ia menceritakan kisahnya. Kukatakan, “Tolong simpankan uang itu di rumahmu. Kita tetap berkumpul sampai saatnya aku harus pergi. Aku ini sendirian. Tiada orang yang mengurusi urusanku.’ Maka ia melakukannya. Setelah itu, ia memberiku uang sejumlah tersebut sampai aku berangkat ke Syam.”
Demikianlah lembaran-lembaran atau petikan-petikan sejarah para ulama, serta berbagai kesulitan, kesengsaraan dan kelelahan yang mereka pikul demi mendapatkan ilmu. Demi ilmu mereka rela mengorbankan darah dan nyawa, sebagaimana telah kita lihat bersama. Mereka rela bersabar dengan kesabaran yang luar biasa sampai mereka mendapatkan ilmu. Mereka adalah para imam pembimbing bagi generasi setelah mereka. Semoga Allah merahmati dan meridhai mereka semuanya.
Sumber: Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama, Syaikh Abdul Fatah, Zam Zam, Cetakan:1:2008
Artikel www.KisahMuslim.com
Langganan:
Postingan (Atom)